FILSAFAT OLAHRAGA

PEMBAHASAN

Filsafat adalah sesuatu yang sangat asing di telinga sebagian orang, karena ilmu filsafat ini dianggap sangat membingungkan dan sulit di fahami. Karena itu banyak orang-rang yang belum faham filsafat membaca buku Ricard Osborn, sama halnya dengan saya. Sebelum saya membaca buku Ricard Osborn, saya menganggap filsafat itu sulit, membingungkan, dan sulit di pahami. Tapi setelah membaca, saya sedikit memahami apa yang di maksud filsafat itu. Saya suka dengan Ricard Osborn yang menulis bukunya di sertai gambar-gambar yang memudahkan saya untuk mempelajari buku tersebut. Tetapi ada beberapa kalimat juga yang sulit saya pahami, dan itu yang menghambat untuk memahami buku tersebut. Dalam buku tersebut saya sependapat apa yang ditulis oleh Ricard Osborn, bahwa di setiap individu mempunyai pemikiran seperti filsuf. Karena setiap individu kadang banyak berfikir kearah yang berbau filsafat. Saya kurang setuju kalau banyak orang menganggap filsafat itu sulit difahami, karena beberapa orang tidak mau berusaha untuk memahami filsafat, dan mereka banyak yang menganggap filsafat itu tidak penting. Kita akan lebih memahami filsafat jika kita sudah mengetahui konsep dari ilmu filsafat itu sendiri. Dan itu membutuhkan usaha dari masing-masing individu.
Saya berpendapat kalau buku yang ditulis Supardi suparlan memang bisa difahami dan dapat diterima dengan logika, bahwa filsafat merupakan pohon dari beberapa ilmu. Karena filsafat dapat digunakan dalam berbagai bidang ilmu, misalnya ilmu fisika, biologi, penjas, matematika, dll. Dalam buku supardi suparlan ditulis juga kalau filsafat berguna dalam kehidupan masyarakat, dan menurut saya itu sangat logis, karena dengan filsafat kita dapat berfikir yang kritis untuk bertindak bertanggungjawab atas semua apa yang telah kita kerjakan atau perbuat.
Kedua buku tersebut mempunyai perbedaan yang sangat mencolok, diantaranya buku yang ditulis Ricard Osborn menjelaskan tentang filsafat secara umum dan memberi contohnya pada kehidupan. Sedangkan buku Supardi suparlan menjelaskan filsafat didalam ilmu pendidikan yang di dalamnya dijelaskan secara rinci, dan ditinjau dari beberapa aspek, Jadi dari kedua buku tersebut mempunyai kekurangan dan kelebihan. Buku yang satu menjelaskan dengan membahas apa itu filsafat secara umum sedangkan yang satu lebih memperinci filsafat dalam ruang lingkup ilmu pendidikan.
Setelah saya mempelajari lebih dalam buku Ricard Osborn saya tertarik pada seorang filsuf yang bernama Epicurus dia berpendapat bahwa” kemiskinan yang ceria adalah keadaan yang terhormat”. Itu menandakan kalau Epicurus menganggap kedamaian batin adalah kebaikan yang tertinggi. Tapi saya kurang setuju dengan pendapat Epicurus, karena jika dalam keadaan miskin otomatis pemikiran kita bagaimana cara memperoleh makan/bertahan hidup, jika kita saja kesulitan bertahan hidup otomatis pemikiran kita tidak ceria lagi melainkan selalu berfikir tidak ceria dan selalu menyalahkan keadaan. Itu yang membuat pemikiran kita tidak ceria. Menurut saya semua itu harus dijalani dengan seimbang, tidak hanya memikirkan keceriaan saja. Jika semua berjalan seimbang maka keadaan fikiran orang juga akan berfikir positif dan otomatis keceriaan itu juga akan timbul dengan sendirinya di jiwa orang tersebut. Yang dimaksud seimbang adalah kebutuhan materi dan jiwa harus seimbang.
Saya juga tertarik apa yang dikatakan Epicurus yaitu filsafat membebaskan manusia dari ketidaktahuan dan takhayul. Saya sangat setuju dengan pendapat itu, karena dengan berfilsafat kita dapat mengetahui apa yang belum kita ketahui atau pahami dengan logis. Filsafat juga bisa memberikan inspirasi untuk berfilsafat lagi dan menemukan pemikiran-pemikiran baru, yang mungkin hasil pemikiran baru itu menjadi pemikiran yang harus di fikirkan lagi. Dan benar sekali kalau filsafat juga membebaskan dari takhayul, karena menurut saya orang-orang dahulu sering menganggap suatu kejadian itu sebagai suatu yang mistik atau takhayul, semua tidak difikirkan dahulu secara logis. Dan menurut saya filsafat dapat menghilangkan semua itu karena dengan berfilsafat semua yang terjadi bisa difikirkan dengan berlogika yang baik.
Setelah saya membaca pandangan dari beberapa filsuf lain yang ditulis oleh Ricard Osborn saya berpendapat, bahwa pendapat yang di sampaikan berbeda-beda. Dan dari perbedaan itu saya berpendapat perbedaan tersebut terjadi karna beberapa kndisi, yaitu keadaan sistim masa pemerintahan waktu itu, kondisi pemikiran para filsuf pada kondisi yang bagaimana, dan pendapat para filsuf berkembang terus sesuai dengan perkembangan zaman. Dan perkembangan zaman tersebut yang menyebabkan perbedaan pola fikir para filsuf.
Semua filsuf yang memberikan pendapat di dalam buku itu banyak sekali filsuf yang membahas suatu masalah bedasarkan pengalaman yang terjadi pada waktu itu. Itu sumua tergambar setelah saya mempelajari lebih dalam lagi buku Ricard Osborn yang di dalamnya terdapat filsuf yang bernama Francis Bacon, saya tertarik dengan apa yang di katakannya yaitu “bila manusia mulai dengan kepastian, ia akan berakhir dalam keraguan. Tetapi bila ia puas untuk mulai dengan keraguan, ia akan berakhir dengan kepastian”. Saya sependapat dengan pendapat itu karena jika sesuatu kita lakukan dengan perasaan terlalu yakin maka segala sesuatunya tidak di fikirkan secara matang, meremehkan dan menganggap semua itu gampang. Lain memulai dengan keraguan, jika timbul perasaan ragu maka kita akan mencari/memikirkan kenapa bisa ragu dan berfikir bagaimana cara menghilangkan keraguan tersebut, dari hasil pemikiran tersebut maka munculah kepastian yang didapat dari proses keraguan dengan mencari tahu dengan berfikir. Tapi saya kurang sependapat dengan semboyannya yaitu “knowledge is power”(pengetahuan adalah kekuasaan). Menurut saya pengetahuan bukan kekuasaan, karena pengetahuan sendiri bersifat umum, jadi pengetehuan bisa dijadikan jalan menuju keinginan apapun, jika pengetahuan disamakan dengan kekuasaan maka pengetahuan itu sendiri mempunyai konotasi yang negatif, yaitu untuk kekuasaan dan kekuasaan itu untuk memperbudak. Disini memperbudak bisa diartikan memperbudak pemikiran orang lain.
Saya juga tertarik dengan pola fakir David Hume yang memikirkan segala sesuatu dengan berlogika, menurut saya apapun yang kita jalani di dunia ini harus dafikirkan dengan berlogika dengan catatan tidak mengubah kodrat manusia sebagai mahkluk sosial dan bertuhan. Kita harus selalu berinteraksi dengan orang lain agar semua itu menjadi rangkaian perjalanan hidup yang baik dan juga meyakini bahwa tuhan itu ada dan yang menentukan semuanya. Kita sebagai manusia Cuma bisa berfikir dengan logika yang dapat menjadikan kehidupan menjadi terarah dan tidak penuh misteri.
Banyak lagi filsuf yang berpendapat tentang ilmu pengetahuan salah satunya seorang filsuf yang bernama Auguste Comte, saya menangkap bahwa beliau menganggap hanya SAINS yang berguna bagi masyarakat. Saya kurang setuju dengan pendapat tersebut, karena jika hanya dengan SAINS tidak akan berguna jika tidak didukung oleh faktor-faktor lain, misalnya faktor Sosial, kita tidak bisa mengunakan SAINS jika hubungan antar masyarakat itu sendiri tidak terjalain dengan baik, dan menyebabkan SAINS sendiri dianggap menjadi sesuatu yang tidak penting. Faktor lain yaitu faktor kesehatan tubuh, kita tidak bisa menggunakan SAINS dengan baik jika keadaan tubuh kita kurang sehat/terganggu. Kesehatan menjadi faktor yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat kita karena jika semua masyarakat kita semua sehat maka semua masyarakat bisa menggunakan SAINS dan berfikir dengan baik, bisa pula menggunakan Ilmu/pengetahuan dengan baik pula. Jadi dapat disimpulkan semua Ilmu yang kita pelajari harus seimbang yaitu harus menggabungkan beberapa faktor yang mendukung dalam mempelajari Ilmu. Dan saya berpendapat kalau faktor kesehatan adalah faktor yang paling penting untuk membantu masyarakat berfikir sehat.
Selain itu dalam pembahasan Rekontruction of philosophi(1920), Dawey mencoba menerapkan pandangan Pragmatis kesegala hal. Dan beliau berpendapat bahwa Pragmatisme membuat umur lebih panjang. Saya kurang setuju dengan pendapat tersebut karena menurut saya umur panjang tidak mungkin di dapatkan dengan menjadi Pragmatisme, menurut saya umur panjang di dapat dengan usaha menjadi sehat, yaitu sehat jasmani dan rohani. Semua itu menurut saya bisa menjadikan umur kita relatif lebih panjang. Karena kesehatan adalah faktor yang mendukung manusia dalam melakukan segala sesuatu. Jadi lebih jelas lagi bahwa kesehatan fikiran/jiwa dan fisik merupakan faktor yang penting dalam menjalani kehidupan ini. Saya juga tertarik dalam pembahasan Fenomenologi dan Ekssistensialsme di dalamnya terdapat beberapa filsuf yang banyak membahas tentang filsafat kebebasan. Saya sangat setuju dengan pendapat para filsuf-filsuf tersebut, karena dengan kebebasan pola fikir, kita juga akan semakin berkembang dan dalam cara pemikiran yang bebas itu kadang banyak pemikiran yang sangat berguna untuk kepentingan semua pihak dan dapat menjadikan pemikiran yang baru yang bisa untuk di fikirkan kembali.
Pemikiran seorang filsuf kadang mengambil suatu obyek, dan salah satunya manusia, disini banyak sekali yang membahas manusia, salah satunya adalah Plato dia menganggap bahwa manusia itu ibarat teks yang sulit, yang maknanya harus di uraikan dengan filsafat. Saya sependapat karena manusia adalah individu yang sulit di fahami dan hanya dengan filsafat maka makna dari manusia itu sendiri sedikit dapat di fahami. Deskretes juga berpendapat bahwa manusia itu mempunyai fikiran dan badan, dan keduanya itu menurutnya tidak ada hubunganya, menurut saya fikiran dan badan mempunyai hubungan yang erat karena dengan badan kita dapat melakukan sesuatu, keduanya dapat berguna dengan baik apabila keduanyadi asah dan di latih supaya keduanya dapat bekerjasama dengan baik, sehingga timbul interaksi antara keduanya, dan semuanya dapat menyebabkan kebaikan dan kejelekan tergantung dari penggunanya, di sini fikiran lebih unggul, karena dengan fikiran semua bisa dilakukan dan diwujudkan. Jadi faktor fikiran dan fisik harus diseimbangkan agar dapat berkolaborasi dengan baik. Adalagi filsuf yang membahas hal lain yang salah satunya membahas pendidikan, karena pendidikan adalah masalah yang tidak ada habis-habisnya, karena menurut saya pendidikan adalah suatu kebutuhan manusia yang setiap waktunya dikembangkan sesuai dengan perjalanan zaman, namun pendidikan sendiri kadang dapat merubah manusia menjadi sosok jiwa yang selalu merasa haus untuk mengembangkan pendidikan, karena itulah manusia memiliki sifat yang tidak pernah puas, sifat tidak puas ini kadang dapat membawa kearah positif dan negatif, karena manusia tidak puas maka manusia selalu ingin mencari dan mencari apa yang di inginkan dan selalu mencoba sesuatu yang bisa mengurangi rasa tidak puas itu sendiri. Kadang rasa puas itu sendiri dapat berdampak negatif, yaitu karena selalu mencari kepuasan yang tidak ada batasnya kadang manusia melupakan dasar dari rasa tidak puas itu, yaitu selalu bertindak bebas dan bertindak sewenang-wenang juga tidak memperdulikan keadaan di sekitarnya dan dapat merugikan pihak-pihak tertentu.
Filsafat pendidikan tidak lepas dari yang namanya tenaga pengajar pendidikan yang tidak lain adalah guru. Menurut saya seorang guru perlu memahami tentang filsafat pendidikan yang sangat berpengaruh terhadap proses pengajaran dan tujuan hidup. Karena seorang guru yang tidak memahami pendidikan sama saja guru tersebut hanya mengajarkan tentang pengalaman dia saja, padahal menurut saya pendidikan bukanlah dari pengalaman saja, pendidikan harus di pelajari lebih dalam lagi agar seseorang yang menerimanya bisa menyelesaikan masalah-masalah pendidikan dengan rencana. Dari rencana-rencana tersebut akan membuat guru sebagai pribadi yang memberikan pedoman kepada peserta didik agar mempunyai tujuan hidup.
Disini saya juga tertarik dengan filsafat metafisikan yang dapat menjadikan guru mengetahui hakekat manusia. Saya setuju sekali dengan itu, karena dengan mengetahui hakekat manusia guru dapat menyesuaikan pengajaran sesuai dengan karakter dan kepribadian dari peserta didik, juga dapat memberi pedoman kepada peserta didik tentang tujuan hidup dan pendidikan. Ada lagi filsafat epistemology yang menjadikan guru mengetahui apa yang harus diberikan kapada siswa dan bagaimana cara penyampaiannya. Itu sangat baik sekali, karena dengan tahu apa yang apa yang harus diberikan dan cara menyampaiannya, seorang guru dapat memberikan pendidikan yang cocok dan mengenai sasaran ke peserta didik, juga dalam penyampaiannya seorang guru lebih mudah memberikannya dengan mempelajari karakter dari masing-masing individu setiap siswa. Terakhir tentang filsafat aksiologi yang dapat membuat guru memahami apa yang diperoleh siswa tidak hanya kuantitas saja tetapi juga kualitas kehidupan karena pengetahuan. Itu sangat baik karena pada akhirnya pendidikan yang diajarkan akhirnya harus di terapkan dalam kehidupan masyarakat. Dari filsafat pendidikan tersebut saya menyimpulkan bahwa, pendidikan hakekatnya adalah suatu cara yang dilakukan untuk memperoleh hasil yang baik dan dapat juga dijadikan sarana untuk mengajarkan manusia mamperoleh tujuan hidup. Hal ini jika disangkut pautkan dengan pendidikan jasmani juga ada kaitannya yaitu bagaimana cara menyampaikan materi yang akan di sampaikan, dengan cara seorang guru memberikan pedoman dan contoh yang harus yang harus bisa dilihat langsung peserta didik, juga dalam pendidikan jasmani seorang guru harus menyesuaikan dengan mempelajari individual peserta didik, karena dari masing-masing peserta didik ada yang koordinasi fikiran dan gerakan baik ada juga yang secara teori baik tapi dalam pelaksanaan ketrampilannya kurang lancar. Dan nantinya dalam pembelajaran jasmani seorang guru harus pintar memodifikasi pembelajaran agar nantinya kesehatan fisik dan fikiran dapat dicapai dan diterapkan dalam kehidupan. Jadi pendidikan jasmani merupakan pendidikan yang sangat penting dalam merubah prerilaku karena pendidikan jasmani bisa menjadi langkah dasar yang dapat di tempuh dalam pembentukan karakter bangsa. Ahir-ahir ini pendidikan jasmani adalah pendidikan yang selama ini di kaitkan dengan masalah kepribadian bangsa, banyak para pakar Jasmani di Perguruan Tinggi beranggapan bahwa pendidikan Jasmani dapat membangun karakter bangsa, moral, disiplin, dan nilai positif lainnya. Namun menurut saya walaupun pendidikan jasmani dapat membangun karakter bangsa kita jangan lupa melupakan factor yang terpenting yaitu warga Negara yang menjalani pendidikan jasmani tersebut, karena jika pelaku pendidikan jasmani tidak difikirkan sama saja pendapat tersebut cuma akan menjadi coretan yang tidak di jalankan. Dalam pendidikan jasmani banyak beberapa faktor yang mempengaruhinya misalnya siswa, guru, dan pembimbing. Dalam pelaksanaan faktor tersebut harus saling mendukung untuk memperoleh tujuan yang telah ditentukan. Jadi nantinya pendidikan jasmani bisa menghilangkan krisis identitas yang sekarang ini gercar-gencarnya terjadi di Indonesia.
Saya tertarik dengan konsep yang berasal dari “Gimnasium swedia” ini memiliki konsep bahwa tubuh merupakan mesin atau instrument. Artinya tubuh adalah suatu kumpulan instrument yang memiliki fungsinya masing masing dan bekerja untuk satu keseluruhan system. Saya sependapat dengan kalimat tersebut karena tubuh merupakan hal yang penting juga bagi aktifitas apapun, walaupun harus didukung dengan adanya jiwa
Jadi menurut saya pendidikan jasmani merupakan mata pelajaran yang sangat penting, karena didalamnya berfungsi untuk mengkompetisikan kekurangan gerak. Didalam pendidikan jasmani gerakan yang dilakukan untuk menuju kebugaran jasmani. Oleh karena itu saya kurang setuju kalau jasmani diremehkan dan dianggap tidak penting dan menganggap jiwa yang paling penting, menurut saya keduanya saling mendukung dan semua menjadi kesatuan yang dapat mendukung kelancaran aktifitas kita sehari hari. Saya kurang sependapat juga dengan filsafat Carteisin yang didalamnya menganggap bahwa antara tubuh dan jiwa merupakan entinsitas yang terpisah satu sama lainnya. Menurut saya tubuh dan jiwa memang terpisah tapi dalam pelaksanakan keduanya harus saling melengkapi dan keduanya tidak ada yang unggul , karena antara tubuh dan jiwa merupakan kesatuan yang sangat penting walaupun sekarang ini pendidikan jasmani mengalamim krisis identitas. Kita sebagai generasi muda yang berjiwa positif kita harus membangun legitimasi baru bahwa pendidikan jasmani adalah penting untuk tetap diselenggarakan.
Ada beberapa filsuf yang mengatakan jika perkembangan pola fikir harus dilakukan dengan keseimbangan antara kesehatan fisik dan fikiran. Dalam perkembangan pola fikir ini banyak filsuf-filsuf yang menganut beberapa aliran filsafat diantaranya aliran Idealisme , Realisme, Pragmatisme, Naturalisme, dan Existansialisme, Namun saya tertarik dengan dua lairan yaitu Idealisme dan Naturalisme atau Materlalisme. Karena jika pendidikan jasmani dilihat dari aliran Idialisme akan sangat bertentangan, karena aliran ini menganggap pikiran (mind) merupakan kunci terhadap segala sesuatu dan obyek yang bersifat fisik tidak dianggap penting. Oleh karena itu menurut aliran ini pendidikan jasmani tidak penting tapi kalau kita lihat kenyataan sekarang ini Fisik merupakan sesuatu yang sama penting dengan fikiran, karena jika pemikiran tidak didukung dengan fisik yang sehat maka hasil pemikirannya pun tidak akan baik. Lain lagi dengan aliran Naturalisme atau Materlalisme yang menganggap bahwa sesuatu yang mempunyai nilai adalah sesuatu yang secara fisik nampak, Berarti aliran ini menganggap bahwa fisik merupakan hal yang sangat penting. Jika pendidikan jasmani dilihat dari aliran ini maka pendidikan jasmani adalah pendidikan yang harus dilakukan untuk menjaga kebugaran jasmani, karena jasmani adalah sesuatu yang nyata dan jika tidak ada jasmani atau fisik maka seseorang mustahil bisa berfikir. Jadi salah jika sekarang ini orang menganggap pendidikan jasmani tidak penting dan selau di nomor duakan, kita sebagai calon guru pendidikan jasmani harus mengambil sikap yaitu dengan cara melakukan pembelajaran penjas dengan metode yang selain berguna bagi fisik juga berguna untuk meningkatkan kreatifitas berfikir siswa, jadi menurut saya antara fisik dan jiwa adalah dua hal yang harmonis dan saling mendukung dan harus selalu di jaga dan di kembangkan. Jadi disini pendidikan jasmani sangat penting dalam pembentukan kedua faktor tersubut yaitu kesehatan jasmani dan rohani/fikiran. Jadi dalam pembelajaran jasmani ilmu olahraga sangat penting bagi seorang guru untuk menguasainya, karena dengan ilmu olahraga tersebut seorang guru dapat mengembangkan kedua faktor tersebut. Berbicara tentang ilmu olah raga, berarti ada kaitannya dengan pendidikan jasmani. Ilmu olah raga saat ini sudah menjadi ilmu yang mandiri dan sekarang ini olahraga tidak hanya permainan untuk hiburan atau menghabiskan waktu luang, tetapi olah raga adalah aktifitas jasmani yang dapat diamati sejak bayi dalam kandungan sampai dengan bentuk bentuk gerakan terlatih, itu membuktikan bahwa olahraga adalah aktifitas yang dapat dijadikan pembentukan karakter, selain itu olahraga juga bias menjadi tontonan yang bermanfaat, yang didalamnya dapat diambil nilai nilai yang menanamkan kebajikan-kebajikan tertentu , kerja tim, keberanian dan intelegasi praktis (Hatab 1998:1003) itu membuktikan bahwa olahraga tidak boleh dilihat dengan sebelah mata karena didalam olahraga terdapat nilai-nilai yang dapat meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Akhir-akhir ini banyak orang yang menganggap bahwa olahraga tidak penting dan menganggap kalau pikiran jiwa lebih penting. Itu semu tidak terbukti dengan kenyataan yang ada karena jika fisik kita tidak dijaga dengan baik dan organ-organnya tidak berfungsi dengan baik maka untuk berfikir saja tidak bias baik. Seperti yang dikatakan sncca, yahng mengatakan “ Osan Dum EsUt Sit ‘ Menssana In Comperesano ” bahwa dengan menyehatkan jasmani dengan latihan-latihan fisik adalah salah satu jalan untuk mencegah timbulnya pikiran-pikiran yang tidak sehat yhang membawa orang kepada perbuatan-perbuatan yang tidak baik. Itu membuktikan bahwa ilmu olahraga juga sangat penting untuk menyehatkan manusia dan olahraga adalah aktivitas yang cocok untuk menyehatkan manusia. Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa ilmu olahraga adalah ilmu yang mandiri dan ilmu yang penting untuk menjaga keseimbangan kehidupan manusia. Untuk itu kita sebagai calon guru pendidikan jasmani harus senantiasa mempertahankan dan mengembangkan ilmu olahraga, agar kedepannya ilmu olahraga menjadi ilmu yang sangat penting dalam menjalani kehidupan ini. Selain itu dalam pembelajarannya kita juga harus mengambil aspek-aspek yang kiranya mendukung dalam pembentukan karakter dan dalam rangka mewujudkan kesehatan jasmani dan rohani. Aspek yang dapat di ambil diantaranya sikap fair play, sikap ini bisa menjadi salah satu pembelajaran dalam proses pendidikan jasmani. Sikap fair play biasanya di wajibkan di dunia olahraga, dalam dunia olahraga kata fair play selalu saja digambar-gambarkan, dan setiap pelaku olahraga selalu saja mengucapkan kata itu, namun dalam kenyataannya fair play sendiri tidak dipratekkan dalam kegiatan olahraga maupun kegiatan sehari-hari. Dalam kegiatan olahraga banyak sekali orang yang selalu melanggar fair play itu sendiri, karena kurang sadarnya orang-orang tersebut tentang fair play dan kurang memahami arti itu sendiri. Banyak sekali orang yang mélanggar fair play ini karena nilai moral yang kurang. Sebenarnya nilai moral tersebut dapat dibentuk dan dikembangkan agar dalam prakteknya nilai moral itu dapat membatasi, jika suatu saat mau bertindak anarkis dan dapat menciptakan suasana fair play. Dalam kegiatan olahraga ataupun kegiatan sehari-hari tindakan fair play juga dapat di didik, dibiasakan agar nantinya perilaku sportif dapat di terapkan, dengan tidak melupakan nilai moral yang ada. Tapi jangan lupa untuk selalu memikirkan kesehatan pikiran dan fisik kita, karena sia-sia jika kita mau membentuk sikap fair play kalau keadaan pikiran atau jiwa kita mengalami gangguan, jadi untuk mendapatkan hasil yang baik dalam usaha menerapkan sikap fair play terutama dilingkaran pendatang, jangan melupakan factor yang sangat penting yaitu kesehata pikiran atau jiwa dan fisik karena kedua factor ini menjadi penentu berhasil tidaknya untuk memberikan pembelajaran tentan gfair play. Kita pun sebagai don guru pendidikan jasmani juga harus bertanggung jawab untuk mensosialisasikan fair play. Jadi dalam pembelajaran guru pendidikan jasmani harus selalu menanamkan sikap fair play dan selalu memberi pengertian agar siswa dapat memahami fair play itu sendiri dan nantinya bias diterapkan dalam kegiatan olahraga dan kegiatan sehari-hari dengan tidak melupakan kesehatan jasmaani dan rohani. Tapi ahir-ahir ini fair play sering di nodai dengan kasus yang sangat bertentangan dengan konsep fair play yaitu kasus doping yang sekarang ini menjadi penyebab masyarakat memandang olah raga sebelah mata. Banyak sekali atlet yang menggunakan doping hanya deanga satu tujuan yaitu meningkatkan prestasi dalam menciptakan rekor, walaupun dalam penggunaan doping ini ada efek yang sangat fatal disamping merugikan diri sendiri kasus doping juga akan meninbulkan menurunnya citra olahraga didalam kehidupan masyarakat. Kasus ini bisa saja menyebabkan masyarakat tidak tertarik lagi terhadap suatu prestasi yang dicapai oleh seorang atlet. Jika atletnya saja tidak dihargai bagaimana olahraga akan berkembang dengan baik. Sebenarnya kasus doping ini bisa diminimalisir dengan cara membentuk moral atau etika masing-masing individu khususnya atlet-atlet usia dini, karena dengan pembentukan moral dan etika ini lebih maksimal jika diberikan secara dini. Dengan begitu kecil kemungkinan seorang atlet akan menggunakan doping, karena sudah mempunyai moral dan etika yang baik ,khususnya dalam olahraga. Hal ini menjadi tugas yang baik bagi calon pendidik dan masyarakat sendiri, karena ini kita sebagai calon pendidik guru pendidikan jasmani selalu menanamkan moral dan etika yang dapat menjauhkan dari sifat-sifat negatif yang nantinya akan merugikan olahraga itu sendiri. Banyak filsut yang mengatakan bahwa semua hal yang terjadi adalahakibat dari perkembangan berfikir kita. Makanya jika kita ingin menyelesaikan masalah ini maka kita khususnya insan olahraga harus selalu berfikir dan berfikir bagaimana cara mencari jalan keluarnya untuk meminimalisir kasus doping tersebut. Tapi jangan lupa jika kita berfikir kita jiga harus memikirkan kesehatan fisik kita. Karena antara jiwa atau pikiran dan fisik mempunyai keterkaitan yang saling mendukung. Jadi nantinya masalah doping ini tidak ada lagi dan tidak melanggar fair play.

~ oleh afristianismadraga pada Januari 6, 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: